PLTSa Benowo Surabaya Masuk dalam Indeks Global Insinerator Sampah yang Mengancam Lingkungan dan Kesehatan Masyarakat

Surabaya, Jawa Timur – PLTSa Benowo menjadi sorotan dalam laporan Global Alliance for Incinerator Alternatives (GAIA) berjudul “Burn Book: Incinerators that Threaten the Climate, Public Health, and our Finances,” yang dirilis pada, 13 Oktober 2026. Publikasi tersebut menganalisis data dari 20 insinerator dan usulan pembangunan insinerator di seluruh dunia, dengan fokus pada utang publik dan subsidi, polusi udara dan iklim, produk sampingan beracun, serta isu-isu umum lainnya di sekitar industri ini— sekaligus mengidentifikasi pola-pola utama yang muncul tanpa memandang konteks regional. Peluncuran publikasi ini disesuaikan dengan Pekan Aksi Global Menghentikan Insinerasi pada 13-16 Oktober, yang disertai berbagai aksi solidaritas di seluruh dunia.

“Sebagaimana ditunjukkan oleh contoh-contoh ini, insinerator atau yang kerap disebut Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (waste-to-energy) tidak serta-merta melenyapkan masalah sampah dan justru menciptakan masalah baru,” tegas Marcel Howard, Ketua Proyek Khusus GAIA sekaligus penulis laporan tersebut. “Insinerator tidak hanya membebani masyarakat dengan udara beracun, emisi iklim, dan utang publik yang mencekik, tetapi juga membutuhkan volume sampah yang sangat besar agar tetap beroperasi, sehingga merusak upaya pemerintah daerah dalam melestarikan sumber daya alam yang berharga. Dengan krisis iklim yang kian meningkat dan dilampauinya batas-batas utama planet kita, kita tidak punya waktu lagi untuk terbuang demi menopang industri pencemar ini.”

Di Surabaya, PLTSa Benowo sendiri menunjukkan tren yang mengkhawatirkan. Sekitar 197.756 jiwa tinggal dalam radius 5 kilometer dari fasilitas tersebut. Warga di sekitar Benowo telah hidup berdampingan dengan tempat pembuangan akhir (TPA) berskala besar tersebut selama bertahun-tahun dan kini menanggung beban ganda dari pengolahan sampah secara termal.

Victor Argentino dari Instituto Polish dengan tegas menyatakan bahwa “Insinerator (atau unit PSEL/WTE) mengabaikan hierarki pengelolaan sampah dan konsultasi publik. Didesak di berbagai kota sebagai ‘solusi instan’ ketimbang pelibatan pemulung dan pemilahan sampah dari hulu, fasilitas ini memperkuat rasisme lingkungan karena kerap ditempatkan di kawasan berpenghasilan rendah dan pinggiran”.

Agar kita dapat menjalani kehidupan yang baik, telah semestinya bagi kita menghirup udara yang bersih. Dan agar dapat menghirup udara yang bersih, insinerator harus ditutup!

Jai Muhammad – WALHI Jawa Timur

 

Kontak Media:

Pradipta Indra Ariono, Direktur Eksekutif WALHI Jawa Timur

informasi@walhijatim.org | +62 878 7053 4304

 

WALHI  Jawa Timur adalah bagian dari Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) sebagai organisasi lingkungan hidup yang independen, non-profit dan terbesar di Indonesia. WALHI menentang model pembangunan saat ini yang berhaluan globalisasi ekonomi dan korporasi. WALHI mempromosikan solusi yang akan membantu menciptakan lingkungan yang berkelanjutan dan berkeadilan sosial masyarakat. WALHI mendapatkan kekuatan yang sangat besar dan pengetahuan dari kerja-kerja kami bersama masyarakat yang selama ini dipinggirkan dan menjadi korban. WALHI bersama- sama untuk melakukan kampanye baik lokal, nasional maupun internasional.

GAIA adalah aliansi global yang terdiri dari lebih dari 1.000 kelompok akar rumput, organisasi non-pemerintah, dan individu di lebih dari 90 negara. Melalui kerja-kerja kami, kami bertujuan untuk mengkatalisasi pergeseran global menuju keadilan lingkungan dengan memperkuat gerakan sosial akar rumput yang memajukan solusi terhadap sampah dan polusi. Kami membayangkan dunia zero waste yang adil, dibangun atas dasar penghormatan terhadap batas-batas ekologis dan hak-hak masyarakat, tempat masyarakat bebas dari beban polusi beracun, serta sumber daya dilestarikan secara berkelanjutan, bukan dibakar atau dibuang.