Berdoa untuk Laut, Melawan untuk Hidup

SELASA, 23 Juni 2026, Kelompok Nelayan Masalembu (KNM) menggelar Rokat Tase’ (petik laut) di pesisir Masalembu, Kabupaten Sumenep, Jawa Timur. Kegiatan tersebut dimeriahkan oleh sekitar 20 perahu dengan puluhan masyarakat, baik laki-laki, perempuan, hingga anak-anak.

Kepulauan Masalembu adalah sebuah wilayah strategis yang mempertemukan tiga arus Kalimantan, Sulawesi, dan Jawa yang menjadi ruang hidup bagi ribuan nelayan kecil. Sebagian besar penduduk kepulauan ini menggantungkan kehidupan pada sektor perikanan. 

Secara ekologis, wilayah ini memiliki kekayaan laut yang tinggi, tetapi juga rentan terhadap kerusakan akibat aktivitas penangkapan ikan yang tidak ramah lingkungan, lemahnya pengawasan, penegakan hukum serta minimalnya akses pelayanan dasar dan kebijakan yang berpihak pada kepentingan pulau masyarakat kecil.

BAGIAN I: Menata Sesajen, Menata Ingatan

SENYUM perempuan berusia senja itu sumringah. Tangannya menggerakkan cergas menata bara-bara air kembang, mengikat jajanan, setiap mengatur detail dengan perhatian yang hampir mistis.

Perempuan itu bernama Suhni (57). Di usia yang tak lagi muda, pagi itu dia bersama beberapa perempuan lain tengah menyiapkan sesajen Rokat Tase’ Kelompok Nelayan Masalembu.

Tiga hari Suhni memasak. Mengolah beras ketan menjadi pusparagam jajanan berbentuk ikan, gurita, dan segala makhluk di kedalaman laut. Semua diramu apa adanya.

Pelbagai ubo rampe disiapkan. Di parao (perahu) sesajen berukuran satu meter ditata setidaknya dengan sepuluh jenis jajanan. Ada tumpeng, buah-buahan, sayur-mayur, beras, segelas teh, kopi, ketupat, dan janur.

“Kalau yang digantung itu namanya jhajhan secokopa (jajan secukupnya). Ada yang nyebut jhajhan ghanna’ (jajan lengkap),” jelas Suhni sambil menyesuaikan posisi jajanan. “Itu semua ada artinya. Tidak sembarang buat.”

Sedari dini Suhni akrab dengan ritual ini. Pengetahuan bukanlah pelajaran formal. Dia lihat langsung ibunya meracik dan menata setiap bahan. Ibunya juga pembuat dan penata sesajen Rokat Tase’ . Lalu tubuh Suhni menyerap pengetahuan itu, melalui tangannya, matanya, melalui pengalamannya selama bertahun-tahun.

Kini, pengalaman itu ingin ia wariskan.

“Sekarang saya buat dengan anak,” kata Suhni.

Suhni menata berbagai sesajen di atas perahu yang sudah ia buat selama tiga hari, di Posko Kelompok Nelayan Masalembu, 22 Juni 2026. (Abdul Haq/WALHI Jatim)

Rokat Tase’ bukan sekedar pesta. Saban tahun, masyarakat pesisir Masalembu berkumpul untuk melakukan hajatan ini, bersyukur atas keberkahan selama dua belas bulan sebelumnya, dan berharap agar bala tidak menghantui tahun yang akan datang.

Ritual itu juga menjadi kesempatan untuk mempererat tali silaturahmi, memperkuat kekompakan sebagai komunitas nelayan yang saling bergantung.

Di titik ini, nilai-nilai habbluminallah (hubungan dengan Allah) dan habbluminannas (hubungan sesama manusia) melebur dalam setiap detail upacara. Makna-makna filosofis jalin-kelindan dengan perjalanan kehidupan manusia.

Simbol parao adalah hidup itu sendiri. Ketika melakoni perjalanan dengan tujuan yang jelas–disimbolkan melalui segenap jajanan–seseorang harus jha’ jhanjhan (jangan ragu). Keputusan harus tegas. Dalam satu tarikan napas yang sama, simbol ketupat menghadirkan simbol pateppa’ (sungguh-sungguh) atau benar-benar lurus dalam menjalani pilihan itu. Semua harus dilalui tanpa tersesat ( jha’ sampe’ kasasar ). Janur yang bermakna jalla jalalu wahuwa nur melambangkan cahaya Allah. Pengingat agar manusia selalu ingat, di tengah perjalanan kehidupan yang luas, hanya Tuhan yang akhirnya. Di sini jajanan pasar menjadi simbol petunjuk arah dalam perjalanan yang gelap dan penuh risiko.

Matsura, salah satu yang memahami makna mendalam ini, menjelaskan dengan tenang.

Istilah Rokat itu adalah ‘roh’ dan ‘berkat.’ Ada yang memaknai Rokat sebagai soro pakoko tor pakoat (suruh memperkokoh dan memperkuat). Atau soro pasekat , (suruh percepat).

Bahkan jhajhan ghanna’ itu ada kepastian dengan Allah. Karena itu simbol dari organ dalam yang terikat dengan hati. Dan harus tertulis nama Allah di sini,” ujarnya sambil memegang dada kanan atas, tempat jantung berdenyut .

Namun, kesakralan itu tidak tinggal dalam dimensi spiritual belaka. Perlahan, tahun demi tahun, Rokat Tase’ mengalami transformasi. Spanduk-spanduk mulai berisi rekaman kekesalan, hingga frustasi yang tidak tahu harus mengungkapkan ke mana lagi.

Isu kelangkaan solar hingga alat tangkap destruktif yang bertebaran. Janji-janji pemerintah yang tidak pernah mereka rasakan tumpah dalam kalimat-kalimat perlawanan. Rokat Tase’ malih rupa ruang perlawanan yang tersembunyi di balik doa.

Kami memandang Rokat tidak hanya menjadi ritual kebudayaan dan keagamaan. Ini juga ruang untuk menyampaikan kritik dan kegelisahan atas masalah yang dialami nelayan. Spanduk yang kami pasang, sebenarnya bertujuan agar dibaca oleh banyak orang, terutama para pemangku kepentingan ,” tegas Sahri, Ketua Panitia Rokat Tase’ .

Suhni terus melanjutkan menata sesajen dengan tangan yang gesit dan mata yang berisi harap, dia tidak hanya melakukan ritual. Dia juga berbicara. Melalui simbol. Melalui ketupat. Melalui bulan Januari. Melalui doa yang sumir.

Sesajen yang akan dilarung dalam rangka Rokat Tase’ Kelompok Nelayan Masalembu, 22 Juni 2026. (Ach. Juli Tintin/WALHI Jatim)

BAGIAN II: Mamaca untuk Raja Mina dan Darah di Daratan

ALKISAH, konon, hidup seorang yatim-piatu berusia dua tahun bernama Marsodo. Dia dirawat oleh sepasang petani rudin yang baik hati. Suatu hari, bersama dua sahabatnya, Marsodo ingin memancing. Mimpi besarnya sederhana, menangkap raja ikan.

Dia menyiapkan seutas tali tambang dan kail jumbo berisi umpan daging kambing, lalu melemparkannya ke laut. Tambang itu diikat kencang pada pohon lontar.

Bermalam-malam kemudian, kailnya disambar oleh sesuatu yang berat. Sesuatu yang besar. Marsodo sendiri tak mampu. Sahabatnya dipanggil memanggil warga. Mereka bahu-membahu, tarik menarik dengan napas tersengal-sengal, sampai akhirnya, sebuah ikan raksasa muncul dari kedalaman.

Raja Mina namanya,” cerita Abdul Karim tegas. “Dan Raden Marsodo adalah satu-satunya orang yang berhasil menangkap Raja Mina .”

Cerita ini hidup di keseharian warga Masalembu. Setidaknya setahun sekali, saban Rokat Tase’ , syair-syair folklor yang disenandungkan. Mamaca (membaca) begitu masyarakat Masalembu menyebutnya. Tradisi lisan itu menjadi salah satu ritus yang wajib dilakukan.

Pagi itu, Abdul Karim membuka mamaca dengan surah Yasin. Bersama tiga karibnya, mereka bergiliran menembang syair-syair macapat tentang Marsodo dan Raja Mina. Suara mereka bersedu-sedan. Temponya khas.

Sementara syair-syair mamaca itu terus mengalun, di area lain, beberapa warga bersiap menyembelih seekor kambing. Sudirman, seorang ustaz setempat, mulai mengangkat pisau. Merapal doa. Lalu diselimutinya dengan khidmat. Darah segar pun mengalir.

Naskah Serat Marsudo yang dibaca saat pelaksanaan mamaca dalam rangka Rokat Tase’ Kelompok Nelayan Masalembu, 22 Juni 2026. (Ach. Juli Tintin/WALHI Jatim)

Dengan belati di tangan, warga mulai menguliti hewan tersebut dengan hati-hati. Sayatan-sayatan itu presisi, agar kulit tetap utuh.

Dagingnya diambil untuk makan-makan. Kulitnya nanti diisi sarka (sampah rerumputan) sampai membentuk kambing utuh lagi, terus digantung di bambu buat kemudian ditancapkan di pinggir pantai ,” ungkap Masjudi, tangannya terus bekerja.

Sekejap hening, hanya suara Abdul Karim dan kawan-kawannya yang terus menembang. Selang beberapa menit setelah jagal rampung, Abdul Karim telah memasuki umpan-umpan terakhir. Rapalan doa mulai dipanjatkan. Nelayan dan warga yang sedari tadi sibuk, mulai merapat ke sumber suara.  

Jadi dengan adanya doa mamaca seperti ini, maka, insyaallah ikan di Masalembu tidak akan pernah kurang.Tetapi, syaratnya, orang Masalembu jangan sampai merusak lautnya. Itu sudah seusai firman Allah ,” tegas Abdul Karim.

Jelang perih, mamaca khalas ditembangkan. Parao sesajen mulai diangkat untuk diarak keliling kampung. Beriring pawai. Di barisan depan, sebuah pertanyaan reflektif membentang menghadap angin laut di tangan kecil anak-anak.

‘Sudahkah Pemerintah Melindungi Nelayan Kecil?’

Foto Anak-anak membengkangkan baner dalam Pawai Rokat Tase’ Masalebu , 22 Juni 2026. (Ach. Juli Tintin/WALHI Jatim)

BAGIAN III: Krisis dan Derita Tiga Babak

BERKALI-KALI Matsahri merutuk kesal. Musababnya, tak sekali-dua dia harus pulang dengan jerigen kosong dari Agen Premium dan Minyak Solar (APMS). Tenaga surya bersubsidi yang menjadi haknya sebagai nelayan tradisional acapkali sulit didapat karena monopoli jatah di lapangan.

Beberapa bulan yang lalu, saking jengkelnya, saya sempat langsung telepon pemilik APMS. Tapi, saya hanya mau dikasih satu drum, padahal dalam sebulan jatah saya itu 10 drum (2200 liter). Ya saya bilang sekalian, ‘Mending nggak usah kalau hanya satu drum, tapi kamu saya laporkan.’ Akhirnya saya dikasih empat drum ,” ungkap Matsahri dongkol.

Permasalahan yang dihadapi Matsahri hanyalah satu dari sekian banyak persoalan yang menjerat nelayan dan masyarakat pesisir Pulau Masalembu. Krisis sosial-ekologis di kepulauan ini adalah lingkaran setan yang menghadang nelayan sejak sebelum perahu mereka bertolak dari dermaga.

Setidaknya ada tiga masalah yang dialami nelayan, yakni praproduksi, produksi, dan pascaproduksi. Batu, tali, daun kelapa, semua naik ,” ungkap Haerul Umam, Sekretaris Kelompok Nelayan Masalembu (KNM), saat menyampaikan Serangkaian di ritual Rokat Tase’ .

Kondisi ini diperparah oleh peliknya akses subsidi BBM di APMS yang sering membatasi jatah solar, hingga nelayan terpaksa membeli eceran dengan harga jauh lebih mahal. Ironisnya, surat rekomendasi resmi dari Pelabuhan Perikanan Pasongsongan, Sumenep, sering kali diabaikan begitu saja.

Terus, apa gunanya pemerintah mengeluarkan surat rekomendasi jika tidak dipatuhi atau nelayan tidak mendapatkan haknya? ” gugat Ketua KNM, Rendy Ansah.

Persoalan di darat itu barulah babak pertama. Begitu tangki bahan bakar terisi dengan biaya tinggi dan perahu mulai membelah ombak, badai berikutnya sudah menanti di tengah laut.

Di zona penangkapan mereka, nelayan tradisional Masalembu dipaksa berebut wilayah dengan-kapal raksasa dari luar yang menggunakan alat tangkap destruktif seperti cantrang. Jaring raksasa itu menyapu bersih dasar lautan, menghancurkan terumbu karang, hingga merusak rumpon nelayan lokal. Di sisi lain, nelayan-nelayan dengan kapal besar seperti purse seine juga menjadi ancaman. 

Dulu 2009 pernah ada ( purse seine ) yang dibakar sama nelayan ,” katanya. 

Ironisnya, penderitaan itu tidak lantas surut ketika palka kapal terisi penuh dan perahu kembali merapat ke dermaga. Di daratan, nelayan kembali dihantam badai ketiga, hamparan pasar. Harga ikan kerap terjun bebas tanpa kendali hingga memicu siklus pilu yang berulang saban tahun.

Nelayan terpaksa membuang hasil tangkapan karena tidak ada yang membeli ,” tegas Haerul Umam.

Kondisi ini hampir terhenti saat musim paceklik. Di Masalembu, ketika sedang tidak musim ikan, urat nadi perekonomian seluruh pulau otomatis lumpuh. Perputaran uang macet dan daya beli melemahkan masyarakat secara drastis, hingga membuat warung-warung dan pasar tradisional sepi pembeli.

Efek domino ini langsung mengetuk pintu rumah para nelayan. Perempuan nelayan seperti Melli Wulandari, yang berjualan ikan di pasar, adalah yang menanggung beban domestik paling berat dari hancurnya siklus musiman ini.

Jika laut rusak, maka ikan juga akan berkurang, bahkan tidak ada,” ungkap Melli. “Pendapatan kami menurun drastis, sementara di sisi lain, kebutuhan sehari-hari harus tetap tercukupi meski harga kebutuhan pokok terus naik .”

Ikan-ikan hasil tangkapan Nelayan Masalembu, 22 Juni 2026. (Ach. Juli Tintin/WALHI Jatim)

Pada titik ini, kehadiran pemerintah untuk mengatasi masalah pusparagam yang dihadapi nelayan menjadi penting. Upaya mengingatkan peran pemerintah itulah yang mencoba menyuarakan masyarakat, salah satunya melalui ritual kebudayaan seperti Rokat Tase’ . Ikhtiar tersebut tidak hanya tampak dari spanduk-spanduk yang tersebar di sepanjang pesisir, tetapi juga menggema di mimbar ceramah.

Ustaz Rusdi berkali-kali mengingatkan bahwa hubungan manusia dan laut itu tidak bisa dipisahkan. Bahkan, upo rambe yang nantinya dilarung ke tengah samudra memiliki makna ekologis yang di dalamnya.

Hewan dan makhluk yang berada di laut dan di darat itu merupakan saudara kita. Dulu, sebelum laut rusak, makhluk daratan dan makhluk lautan itu sering bertemu dan saling bertanya ,” tegas Ustaz Rusdi. “ Makanya, tema ini tepat, bersama-sama menjaga laut karena laut adalah sumber kehidupan .”

Dia juga mengenang tatkala lautan Masalembu masih indah dan terjaga. Gumuk-gumuk pasir kala itu menjadi tangkis alami dari amukan ombak dan lumba-lumba yang setia menemani nelayan melaut. Namun kiwari, gundukan pelindung itu lenyap menjelma pelabuhan.

Sekarang tangkisnya pakai tembok. Ya enggak kuat. Kalau dulu tangkisnya buatan Allah,” jelas Ustaz Rusdi.

Penjelasan Ustaz Rusdi seolah sedang mewanti-wanti ancaman krisis iklim nyata yang tengah membayangi Masalembu. Kenaikan muka air laut hingga terjangan abrasi memang tak akan pernah bisa dihalau dengan hanya bermodal tanggul beton buatan manusia.

Satu dari puluhan pohon kelapa di Masalembu yang tumbang karena abrasi, 21 Juni 2026. (Ach. Juli Tintin/WALHI Jatim)

Di atas panggung, di hadapan ratusan pasang mata nelayan, Ustaz Rusdi melempar rentetan pertanyaan reflektif yang kian menegaskan bahwa Rokat Tase’ hari itu bukan lagi sekadar ritus budaya. Ia telah menjelma mimbar gugatan ekologis.

Sudah seberapa parah terumbu karang Masalembu ini hancur? Sudah seberapa parah bom ikan di Masalembu? Sudah seberapa parah potas di Masalembu? Sudah seberapa parah laut Masalembu ini tidak sesuai dengan harapan nenek moyang?”

Jangan main-main!,” tegas Ustaz Rusdi mewanti-wanti. 

BAGIAN IV: Melarung Sesaji, Membentang Perlawanan

Parao upo rambe telah dinaikkan ke atas perahu besar milik Rumiski. Di sekelilingnya, mesin-mesin perahu nelayan lain mulai menyala, menderu memecah keheningan pesisir. Melarung sesaji kini menjadi rentetan akhir ritus sakral Rokat Tase’ yang siap dihantarkan menuju tengah samudra.

Di pantai, Suhni dan Matsura berdiri melepas keberangkatan kapal. Matanya yang senja menatap perahu Rumiski dengan senyum haru. Pusparagam sesaji yang ia buat hendak dilarung.

Satu demi satu, iring-iringan perahu mulai bertolak dari dermaga, membelah ombak Masalembu yang membawa kecemasan sekaligus harapan ratusan warga pulau. Bendera-bendera di atas perahu mulai berkibar. Satu di antaranya bertuliskan ‘Masalembu Tolak Cantrang’.

Parao sesajen yang telah dilarung ke laut dengan harapan hasil tangkapan meningkat, 23 Juni 2026. (Abdul Haq/WALHI Jatim)

Di atas gelombang itu, ritual ini bukan lagi sekadar warisan tradisi yang diulang saban tahun, melainkan simbol perlawanan terakhir untuk mengetuk pintu langit.

Setibanya di titik pelarungan, perahu sesaji mulai diturunkan perlahan. Enam orang nelayan sigap menceburkan diri ke dalam air, memastikan larung parao berlayar sempurna.

Lamat-lamat layar kain bertuliskan KNM ditiup angin. Syukur dan harap seketika menyelimuti samudra di permulaan siang itu. Prosesi Rokat Tase’ pun usai. Doa-doa yang dirapal Ustaz Rusdi menggema dalam deru mesin nelayan.

Ya Allah, semoga kita semua diberi kesadaran.Semoga pemimpin kita melembutkan hatinya, dan mulai hari ini memikirkan kepentingan-kepentingan masyarakat . (*)

Bendera penolakan cantrang berkibar ketika nelayan hendak menyandarkan perahu setelah melakukan larung sesaji ke tengah laut, 23 Juni 2026. (Abdul Haq/WALHI Jatim)