Rilis Beach Clean Up & Brand Audit Plastic Free July 2026 Plastic Free July: Pantai Sidem Darurat Sampah, Temuan Brand Audit Terhitung Besar

TULUNGAGUNG – Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Jawa Timur  bersama Aliansi Lingkar Wilis Indonesia (Alwi), Pusat Pendidikan Lingkungan Hidup (PPLH) Mangkubumi, Mahasiswa Pecinta Alam (Mapala) Himalaya, dan Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Aksara melaksanakan kegiatan bersih pantai dan audit merek (brand audit) di Pantai Sidem, Kabupaten Tulungagung, kegiatan ini diadakan sebagai peringatan Plastic Free July (Juli Bebas Plastik).

Plastic Free July atau Juli Bebas Plastik merupakan gerakan kampanye pengurangan plastik sekali pakai yang dipelopori oleh Rebecca Prince-Ruiz, pada tahun 2011 di Australia Barat. Gerakan ini diperingati selama satu bulan penuh mulai dari tanggal 1 hingga 30 Juli. 

Selain bersih-bersih pantai juga dilakukan identifikasi produk dari produsen apa saja yang paling banyak mencemari Pantai Sidem. Inisiatif yang digelar di pantai itu merupakan komitmen nyata untuk mengurangi pencemaran plastik di ekosistem laut dan meningkatkan kesadaran bersama tentang tanggung jawab produsen.

Kegiatan berlangsung dari 09.00 hingga 13.00 WIB (18/7/26), mulai dari pengumpulan, pemilahan, penimbangan, dan identifikasi merek sampah. Sebanyak 22 karung sampah berhasil terkumpul dengan total keseluruhan seberat 252,15 kilogram. 

Setelah dilakukan pemilahan dan pembersihan tim berhasil mengumpulkan sampah anorganik seberat 153,63 kilogram. Sampah tersebut kemudian digolongkan ke dalam berbagai jenis seperti plastik sekali pakai, botol air mineral dalam kemasan (AMDK), kemasan sachet, popok, botol kaca hingga limbah bahan beracun dan berbahaya (B3). 

Hasil pemilahan merek mengungkap bahwa jenis sampah paling banyak adalah popok sekali pakai yang tergolong sebagai limbah B3 seberat 52 kilogram. Selain popok, kemasan sachet bermerek juga cukup banyak dengan total 10 kilogram. Merek yang paling banyak ditemukan yaitu Mie Sedap dan Luwak White Coffee. 

Di samping itu, AMDK merek Club mendominasi sampah gelas minum sekali pakai dengan total 101 pieces, sementara untuk kemasan kertas, Pop Mie mendominasi dengan 54 pieces. Tak hanya kemasan bermerek, plastik sekali pakai tanpa merek seperti kantong kresek juga ditemukan cukup banyak, seberat 34 kilogram.

“Kami tidak hanya membersihkan, tetapi juga mengidentifikasi merek mana yang paling dominan. Ini penting agar produsen ikut bertanggung jawab, karena merekalah yang paling banyak menciptakan kemasan sachet dan plastik sekali pakai,” tegas Lucky Wahyu Wardana, Kepala Divisi Advokasi dan Kampanye Walhi Jatim. 

Pemilihan Pantai Sidem sebagai lokasi brand audit didasari dari lokasinya sebagai muara Sungai Niyama di Tulungagung. Salsabilla, pengurus Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Aksara, menjelaskan bahwa sumber sampah di pantai tidak semata-mata dari pengunjung.

“Sampah tidak hanya datang dari wisatawan, tetapi juga dari hulu. Sungai Niyama yang melintasi Kabupaten Tulungagung bermuara di sini. Sampah seperti popok, pasta gigi, dan pembalut kemungkinan berasal dari kota yang dibuang ke sungai, lalu hanyut ke laut, dan akhirnya terdampar di pantai,” ujarnya. 

Hasil brand audit ini nantinya akan digunakan sebagai bahan advokasi kepada produsen agar mengurangi penggunaan kemasan sekali pakai dan beralih ke sistem yang lebih ramah lingkungan.

“Secara regulasi, permasalahan sampah tidak hanya persoalan pemerintah dari sisi tata kelola ataupun dari masyarakat sebagai konsumen, tetapi juga dari sisi produsen. Mereka bertanggung jawab atas sampah yang mereka produksi, salah satunya dengan membuat Peta Jalan Pengurangan Sampah oleh Produsen, sesuai Permen LHK 75 tahun 2019,” tegas Siti Mutmainnah, Manajer Kebijakan Publik WALHI Jawa Timur. 

 

Narahubung :

087870534304 – WALHI Jawa Timur

085730734298 – LPM Aksara