Kelelep (Tenggelam)

Tragedi itu datang dua kali. Pertama saat ia terjadi, kedua ketika ia terlupakan.

Dua puluh tahun sudah semburan lumpur Lapindo berlangsung. Ia tak pernah benar-benar berhenti. Ia hanya malih rupa. Dari bencana menjadi kondisi, dari kondisi menjadi kehidupan sehari-hari yang terpaksa diterima tanpa pilihan. Dan 29 Mei 2006 menjadi titik kisar kehidupan warga. Rumah-rumah kelelep. Namun, yang paling dalam tenggelam tak pernah bisa diukur dengan meteran. 

Sofiatul Izzah tidak pernah benar-benar berhenti bekerja sejak tragedi itu. Seusai subuh, ia duduk bersama enam belas tetangganya, rata-rata perempuan, mengupas udang sebagai penghasilan tambahan. Suaminya, Khusairi, pergi ke ladang sewaan, yang kini sebagian besar tak lagi bisa ditanduri. Air tanah terkontaminasi. Pendapatan menyusut. Dan setiap tahun, satu setengah juta rupiah harus dikeluarkan bukan untuk menabung atau memperbaiki nasib, melainkan sekadar menambal dinding rumah yang terus keropos terkelupas digerus udara bercampur gas.

Ketika sebuah rumah tidak lagi bisa melindungi penghuninya dari udara di luarnya, apa yang tersisa dari gagasan tentang rumah? 

Eva, putri tunggal mereka, tumbuh dalam pertanyaan yang tidak pernah terjawab itu. Gatal-gatal dan sesak napas sudah menjadi bagian dari kesehariannya. Yang lebih dalam menghantuinya adalah sesuatu yang tidak bisa dilihat oleh kamera.

Yang selalu saya ingat ketika melihat lumpur Lapindo, ya kenangan tentang rumah nenek.”

Kini, rumah itu ditelan lumpur, dan hanya bisa ia kunjungi dalam ingatan.

Sedang, di faset yang lain, Suti’ah dan Suryanto menanggung kehilangan berlapis. Rumah lama digusur sebab perluasan tanggul. Memutuskan pindah ke sebuah kampung yang hanya sedepa jaraknya dengan tembok beton penahan lumpur. Mereka bertahan bertetangga dengan ancaman. Anak yang enggan jauh dari kawan sepermainan adalah alasannya.

Dulu, usaha tas obrok mereka adalah salah satu yang terbesar di kawasan Porong dan Tanggulangin. Lima karyawan, pasar yang hidup, masa depan yang bisa dibayangkan. Semuanya berubah setelah lumpur datang. Penghasilan anjlok hingga tujuh puluh persen. Tiga liter air harus dibeli saban hari. Mobil dijual. Barang-barang lain menyusul. Dan kecemasan itu terus bergentayangan. Terlebih, sejak tanggul penahan lumpur sempat jebol beberapa tahun silam, mengingatkan mereka bahwa ancaman tidak pernah benar-benar pergi.

Tanah yang menolak bibit, udara yang mengandung gas, air yang harus dibeli. Semuanya berlangsung tanpa ledakan, tanpa momen tunggal yang bisa dijadikan berita. Itulah yang membuatnya mudah diabaikan. Oleh media. Oleh pemerintah. Oleh korporasi yang sudah lama mengalihkan perhatian ke tempat lain. Dan itulah yang membuatnya berbahaya.

Di sinilah letak kekerasan yang paling sulit untuk difoto. Ia tidak meledak, tidak mengalir deras, tidak menangis di depan kamera. Ia bekerja perlahan. Dalam tubuh yang gatal, dalam paru-paru yang sesak, dalam tanah yang tandus, dalam dinding yang keropos, dalam kenangan yang tidak lagi punya tempat untuk pulang. Kekerasan yang sudah tidak lagi terlihat seperti kekerasan, justru karena negara dan korporasi telah berhasil mengubahnya menjadi keseharian yang harus diterima.

Karya-karya Robertus Riski  ini tidak hadir untuk mendramatisasi penderitaan. Ia hadir untuk menolak jarak yang terbentuk ketika sebuah tragedi perlahan bergeser dari halaman depan menjadi catatan kaki, dari berita menjadi arsip, dari krisis menjadi sesuatu yang dianggap sudah tuntas padahal belum.

Dengan menempatkan Yuli, Khusairi, Eva, Suti’ah, dan Suryanto sebagai pusat narasi visual, pameran ini menolak cara pandang yang mereduksi mereka menjadi angka kerugian atau data korban. Mereka adalah manusia dengan nama, dengan kenangan, dengan kehilangan yang sangat konkret. Dan dengan hak-hak dasar yang selama dua dekade terus dirampas tanpa ada yang benar-benar dimintai pertanggungjawaban.

Pada akhirnya, cerita foto ini adalah tentang deru napas yang terus mencari jalan sintas. Tentang kehidupan jentaka yang belum khalas. 

Dari tepian tanggul itu, suara masih bergema. Dua puluh tahun. Dan, sudahkah kita menjawabnya?

 

Robertus Riski Untuk WALHI Jawa Timur

Dalam Dua Dekade Lumpur Lapindo