Aku gak kepingin mbukak masa lalu… (Ibu tidak ingin membuka masa lalu)
Sakit dadaku, nak… (Sakit dada ibu, nak)
Nek aku iso muter waktu, aku lebih baik tetep nang Reno… (Kalau ibu bisa memutar waktu, ibu lebih baik tetap tinggal di Reno)
Wis gak ono ngene-ngene, nak… (Seharusnya bencana ini tidak pernah terjadi, nak)
-Sapti Indah Yani (56 Tahun)
Di Porong, Sidoarjo, derita masih senyaring deru sembur lumpur panas Sumur migas Banjar Panji 1 PT. Lapindo Brantas. Operasi perusahaan yang abai risiko diganjar malapetaka. Sonder disadari, malam itu, 29 Mei 2006, bahaya merayap dari bawah tanah. 16 desa di tiga Kecamatan; Porong, Tanggulangin, dan Jabon, lenyap terendap bersama sendi-sendi kehidupan ratusan ribu warga. Lumpur itu menimbun rumah, menggulung tanah–nyaris tak terkira–pelan-pelan segalanya mulai tenggelam.
Kaki kaki didesak pergi, tak ada kesempatan menoleh belakang lagi. Mereka terasing di bentala baru, di mana rumah-rumah disusun ulang dan kehidupan tak seperti sedia kala. Laiknya pohon yang belia, ia bisa tumbang kapan saja. Dua dekade berlalu, luka tak pernah tua, disaku waktu demi waktu, terpancang kenangan dalam ingatan.
Harwati (48) tidak pernah benar-benar meninggalkan peristiwa itu. Pertengahan tahun 2006, dalam keadaan hamil besar, ia masuk ke pengungsian;rPasar Baru Porong. Tempat itu, baginya, adalah halaman pertama hidup yang semenjana. Orang-orang berdesakan, bertahan dalam keterbatasan, dan perlahan tercerai berai.
Hidup Harwati bak berlayar di tengah badai. Topan itu datang tahun 2008, suaminya meninggal dunia. Kehilangan itu melumpuhkannya. Ia tidak mampu merasakan apapun, tidak lapar, tidak haus, tidak pula apa-apa di luar dirinya,
Waktu Magrib lah habis hujan, koyok rintik-rintik ngono (Selepas magrib lah, setelah hujan, sedikit gerimis)
Sama mamaku iku dibiarkan ngono (Mama membiarkanku)
Maksude ngko nek ditegur, mungkin de’e terlalu berat beban aku (Maksudku, kalau ditegur, dia takut makin membebaniku
Hingga suatu senja, tangisan anaknya membangunkannya dari kehampaan.
Anakku yang kecil iku, bayi to? Nangis susunya habis (Anakku yang kecil, yang bayi, menangis susunya habis)
Aku koyo’ dibangunin dikocok-kocok koyo’ gini loh (Aku seperti disadarkan, diguncang-guncang)
Kon iki ngapain kayak gini? Kon iki lapo kon iki? Iku anakmu nangis loh (Kamu sedang apa? Kamu kenapa? Anakmu menangis itu loh)
Sedangkan gak ada orang di kanan kiriku. Kayak gitu baru aku kepentok (Tapi tidak ada siapapun di kanan kiriku. Saat itu aku sadar)
Lantas, bergegas ia. Sesampainya di sana, si bayi tengah di pangkuan neneknya, minum dari sebotol dot air gula. Meski, tangisnya pecah karena kehabisan susu.
Lah iki ya, kadu urip aku iki (Oh iya, aku harus hidup)
Maka, meski tak cakap berkendara, Harwati tetap memilih bekerja sebagai ojek Tanggul. Memandu pengunjung sambil lalu menuturkan kronik lumpur Lapindo; menuturkan kisahnya; menuturkan tenggelam rumahnya; menuturkan ihwal yang mestinya tidak tandas dari lisannya. Namun, Harwati tak pernah bisa memilih.
Fragmen kisah ini memperlihatkan bahwa Lapindo tak hanya mengubur harta, tetapi pula martabat, akses, dan hak atas kehidupan. Lumpur tidak hanya membenamkan tanah, melainkan juga relasi sosial, nilai, dan malih rupa bentuk-bentuk kerentanan baru bagi warga korban.
Secara narasi visual, dokumenter ini berusaha menangkap ketegangan yang berkelindan antara kehadiran dan ketiadaan, antara yang tampak dan yang tenggelam. Tak berhenti pada potret fisik, lebih jauh merangsek endapan mental dalam diri subjek: ingatan, trauma, hasrat, amarah, dan duka.
Pendekatan interaktif dipilih sebagai upaya partisipatif, di mana anda bukan hanya pengamat pasif, tetapi pula aktif yang turut merasakan kompleksitas hidup para subjek. Pun, subjek itu tidak ditempatkan semata sebagai korban pasrah, tetapi senantiasa menegosiasikan kehidupannya untuk bertahan, beradaptasi, membangun kembali, sembari merawat keping keteguhan yang masih tersisa.

You can get the monkey off your back, but the circus never leaves town.
Ivandarski untuk WALHI Jawa Timur
20 Tahun Lumpur Lapindo

