Pakhom mulai berjalan,
menggali lubang di sepanjang jalan,
untuk menandai tanah yang akan jadi miliknya.
Pakhom, seorang petani yang terobsesi memiliki tanah sebanyak mungkin. Ia percaya bahwa dengan lebih banyak tanah, hidupnya akan jadi lebih aman dan bahagia. Suatu hari Pakhom mendapat tawaran dari suku Bashkir, menukar 1.000 rubel miliknya untuk mendapat tanah seluas yang bisa dia tempuh dalam sehari, dengan syarat Pakhom harus bisa kembali ke titik awal dia berjalan, sebelum matahari terbenam.
Demi mendapatkan tanah seluas mungkin, Pakhom berjalan tanpa henti, tanpa istirahat, tanpa makan, tanpa menghiraukan tubuhnya sendiri. Didorong oleh keserakahan, Pakhom terus berjalan semakin jauh, dalam kepalanya hanya terbesit bayangan ingin mendapat tanah seluas mungkin. Hingga senja tiba, dia memaksakan diri untuk kembali ke titik awal. Namun, sesampainya di sana, Pakhom roboh dan mati kelelahan. Pelayannya mengambil sekob lalu menggali tanah sepanjang enam petak, untuk menguburkan tubuh Pakhom.
Pembaca yang budiman, cerita di atas adalah cerita pendek karangan Leo Tolstoy “Berapa Luas Tanah yang Dibutuhkan Seorang Manusia?” yang terhimpun dalam kumpulan cerpen dengan judul yang sama. Melalui cerita yang getir dan semenjana, Tolstoy merefleksikan bagaimana keserakahan mampu menjemput ajal. Setelah berpeluh keringat Pakhom berlari, ironisnya tanah yang dibutuhkan Pakhom hanya seluas 6 petak. Petak tanah yang cukup dihitung jari untuk menguburkan dirinya sendiri.
Di kehidupan modern, kisah Pakhom tidak berhenti sebagai dongeng belaka. Pakhom hidup kembali dalam wujud yang lebih besar, lebih rakus, dan lebih sistematis; Kapitalisme dengan pemerintah sebagai pelayannya. Serupa Pakhom, kapitalisme terus berjalan, meluas, mencaplok, bahkan mengubah apapun di sekitarnya menjadi sesuatu yang bisa diakumulasikan. Dalam kerangka kapitalisme, tanah adalah aset, hutan adalah cadangan tambang, gunung adalah sumber energi dan laut adalah jalur industri.
Bagi kapitalisme, keuntungan adalah tujuan. Maka, pemukiman disulap pembangunan, hutan ditebang jadi tambang, lahan pertanian diganti industri energi, gunung dihisap jadi sumber energi, dan laut ditimbun jadi perumahan. Olehnya, semua yang hidup direduksi ke dalam angka laporan investasi.
Satu hal mendasar yang membedakan kisah Pakhom dan kapitalisme, adalah tentang siapa yang akhirnya menjadi korban dalam cerita. Pakhom menanggung sendiri akibat keserakahannya, sedang kapitalisme mengorbankan manusia dan makhluk hidup lain atas akumulasi ekonominya. Mereka yang sama sekali tidak pernah diajak berunding, tak menerima hasil apapun, kecuali kerusakan, bencana, dan kematian.
Pada akhir tahun 2025, banjir bandang menghantam Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, mengorbankan 1.450 nyawa manusia. Sebab, hutan yang dulu menjadi benteng alami dijadikan tambang dan perkebunan sawit. Ketika air bah itu datang, pelayan kapitalisme hanya berkata, “Ini takdir alam”, sebuah bencana yang harus dihadapi. Seluruh masyarakat diajak berbelasungkawa, diminta lebih peduli lingkungan, sembari menerima bahwa semua ini adalah nasib. Sementara di balik itu, izin terus diterbitkan, gergaji mesin terus menebang tanpa jeda.
Di Paiton, Pembangkit Listrik Tenaga Uap menggiring ribuan warga pada kematian dini akibat polusi udara. Penyakit pernapasan meningkat, kualitas hidup merosot drastis. Ketika kritik menguat, si pelayan lagi menjawab, “Kita harus bertransisi menuju energi bersih.” Namun, pembangkit muskil berhenti. Maka, batubara dicampur 10% serbuk kayu, “inilah rumus minim polusi”, lalu diklaim sebagai solusi rendah emisi. Dengan begitu PLTU bisa terus menyala, narasi hijau dijadikan pembenaran dan paru-paru warga tetap rusak.
Di ujung Surabaya yang sunyi, Benowo, berdiri sebuah ikon teknologi modern yang pelan-pelan menggerogoti kesehatan warganya. Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa), tempat plastik, kertas, dan puing-puing dibakar jadi listrik, terus mengepulkan asap dari balik cerobongnya. Kemudian, si pelayan memuja teknologi ini sebagai yang pertama di Indonesia, simbol kemajuan yang digadang-gadang mampu menjawab persoalan sampah perkotaan. Namun, di balik narasi keberhasilan itu, kenyataan pahit membayangi; asap sisa pembakaran sampah perlahan mengisi udara, terhirup oleh warga sekitar, mengendap di paru-paru, dan menjelma racun yang bekerja diam-diam.
Sepanjang pesisir Jawa Timur, ribuan keluarga hidup dalam kecemasan. Air laut terus naik, daratan semakin ambles, rumah perlahan tenggelam, dan mata pencaharian lenyap bersama hidup yang tergerus senti demi senti. Seolah buta, pelayan menyerukan jargon, “Mari kita menuju pembangunan yang lebih berkelanjutan.” Namun, di saat yang sama, reklamasi terus berjalan, pagar ditancap sebagai patok, dan laut jadi peta industri migas.
Kapitalisme terus melangkah seperti Pakhom, tak pernah dan tak mungkin benar-benar berhenti. Pada akhirnya, cerita pendek Tolstoy bukan lagi kisah tentang Pakhom saja, bukan sekadar pertanyaan tentang seberapa luas tanah yang dibutuhkan manusia? Kini pertanyaannya jauh lebih mendasar dan lebih menakutkan; siapa yang akan dikorbankan demi keserakahan itu terus hidup?
Unduh Disini


