Cerita Dari Pesisir Paiton

Pukul 18.00 WIB lebih, satu-persatu kawan hadir dan memadati Gudang District Cafe di Kraksaan Probolinggo. Kami agak kaget melihatnya. Betapa tidak terbayangkan sebelumnya, melihat antusias amat besar tiap peserta dengan latar belakang dari pelbagai komunitas. Mereka sengaja menyisihkan waktu luangnya, berkenan mampir dan duduk bareng dalam Nobar juga Diskusi bertajuk Merawat Bumi Untuk Masa Depan: Ajaga Tana, Ajaga Na’poto’ yang dieksekusi oleh WALHI Jawa Timur, LPM Al-Fikr, Asosiasi Petani Probolinggo (Aspekpro), Komunitas Rumah Kreatif dan SMAKRAPALA pada Sabtu 5 Juni 2024.

Sempat timbul keraguan, kurang lebih 30 menit menjelang acara dimulai tiba-tiba lampu-lampu yang menggantung di teras dan ruang kafe mendadak mati. Seketika itu suasana menjadi hening untuk sesaat. Rupanya terjadi pemadaman listrik di Kraksaan yang menyita waktu cukup lama. Acara seharusnya di mulai pukul 19.00 WIB, terlanjur molor sampai pukul 19.30 WIB. Namun keraguan itu kini sirna, saat melihat kedatangan peserta jika dihitung lebih dari 50 orang. Malam itu, meja-meja dan kursi-kursi kedai kopi itu tampak penuh, ruang dan teras kefe disesaki oleh peserta juga kendaraan bermotor.

SembarI menikmati seduhan kopi yang disajikan, tiap peserta tampak anteng dan mendengarkan pembukaan acara yang disampaikan oleh Imam. Ia adalah anggota LPM Al-Fikr yang dipilih menjadi moderator acara. Setelah menyampaikan sepatah dua kata, segera mungkin peserta memalingkan wajah ke layar proyektor yang disiapkan di sudut ruang. Film pertama bertajuk Sakarani, berdurasi 41 menit garapan Komunitas Rumah Kreatif, bercerita tentang kehidupan masyarakat pesisir di Paiton. Film ini diambil dari kaca mata persahabatan antara pemuda dan pemudi. Saka adalah seorang pemuda dari keluarga nelayan yang tinggal di pesisir. Rani adalah seorang pemudi dari keluarga yang tinggal di kota Jakarta, namun dialih tugaskan sebagai pegawai di PLTU Paiton. Singkat cerita, mereka dipisahkan akibat gejolak konflik yang melibatkan nelayan dengan PLTU Paiton.

Tepuk tangan bergema usai film pertama selesai diputar. Sesaat layar proyektor menjadi hitam pekat, sekejap beralih gambar patung kuda berwarna emas, bertuliskan “Menakar Air Sumenep”. Ini menandakan dimulainya pemutaran film kedua. Film ini di produksi WALHI Jawa Timur. Dokumenter ini berisi perjalanan tim WALHI Jatim merekam penampakan krisis ekologis di Sumenep. Dibuka dengan penjelasan tentang pentingnya air sebagai sumber penghidupan bagi masyarakat lokal, baik pertanian dan kelangsungan pendidikan pesantren. Perjalanan dilanjutkan ke wilayah Sumenep Tengah yang menjadi konsesi tambang fosfat, wilayah Sumenep Utara yang pantainya telah merendam sawah warga, hingga Sumenep Selatan yang lautnya telah dikuasi pertambangan migas.

Tepuk tangan kembali bergema sesaat usai film kedua selesai diputar. Sembari memegang pengeras suara, imam berdiri sejenak. Ia pun turut menjelaskan alasan 2 film itu terpilih untuk di putar dalam acara ini. Dilanjutkan dengan memperkenalkan 4 orang perwakilan dari masing organisasi yang akan memberikan pemaparan dalam diskusi kali ini.

Diskusi dimulai dari Lila Puspita (WALHI Jawa Timur) yang menjelaskan tentang bagaimana masyarakat lokal menjaga alam, serta mempertahankan tanah kelahirannya melalui budaya dan adat istiadat. Dilanjutkan cerita dari Abah Mudzakir (Asosiasi Petani Kabupaten Probolinggo) tentang kopi yang disajikan di restoran besar semacam Starbuck dan Excelso adalah kopi yang dibeli dengan harga sangat rendah dari petani-petani yang ada di desa.

Abdul Haq (Kolektif DLRNGTH) juga menceritakan pengalaman pribadinya tentang kerusakan ekologis di pesisir kabupaten probolinggo. Kemunculan tambak udang menyebabkan hilangnya mangrove dan penurunan muka tenah, membuat desa di pesisir Kalibuntu dan Sidorejo jadi langganan banjir rob tiap bulan. Diakhiri dengan penjelasan Awdira Maulida dari SMAKRAPALA tentang betapa pentingnya generasi muda bersikap peduli dalam menjaga kelestarian lingkungan.

 

Cerita dari Pesisir Malang Selatan

Tiga hari setelah berkunjung ke Paiton, tim Eksekutif Daerah WALHI Jawa Timur bergeser ke Malang Selatan, pada 8 Juni 2024 dalam rangkaian peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2024. Perjalanan 5 jam yang ditempuh dari Surabaya, membawa kami sampai di sebuah posko yang berhadapan langsung dengan sebuah bukit. Posko dari bambu berkuran 5×5 meter. Tampak pada atap bangunan terbentang banner bertuliskan “Komunitas Tegalsari Maritim” (KTM). Sesaat turun dari kendaraan, kami disambut hangat oleh ibu-ibu dan bapak-bapak yang merupakan anggota KTM.

KTM merupakan suatu komunitas yang bergerak pada konservasi sungai. Posko utamanya terletak tidak jauh dari muara Sungai Bajulmati, Desa Sidodadi, Gedangan, Kabupaten Malang. KTM sendiri menjadi komunitas dampingan Lembaga Pengabdian Masyarakat Unversitas Widyagama Malang dalam pengembangan “eco education water sport tourism” susur sungai permukaan dan “eco education spaleo tourism” susur sungai bawah tanah.

Anggota komunitas yang mayoritas profesi sebagai nelayan juga memiliki kegiatan rutinan penananam mangrove di sekitar muara sungai Bajulmati pada tanggal 1 dan 15 setiap bulannya. Upaya ini merupakan langkah konkrit dari komunitas sebagai respon pencegahan atas kerusakan lingkungan dan biota sungai akibat erosi pada daerah aliran sungai Bajulmati.
Ikan-ikan segar berukuran besar telah disiapkan KTM sebagai hidangan makan malam. Bagi orang yang menghabiskan kehidupan di kota dapat menyantap ikan segar dari hasil tangkapan langsung nelayan adalah berkah. Seusai menyantap hidangan ikan bakar, dilanjutkan dengan acara jagongan bersama KTM hingga larut malam.

Keesokan harinya, pada Minggu 9 Juni 2024 sekitar pukul 09.00 WIB, semua berkumpul untuk persiapan kegiatan utama. Dalam rangkaian Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2024, WALHI Jawa Timur beserta anggota WALHI yakni Klub Indonesia Hijau Regional 12 Malang (KIH12) dan SLH Saunggalih Univ Yudharta Pasuruan, serta komunitas seperti Kader Hijau Muhammadiyah Malang, Sindikat Aksata dan PSHT Universitas Widyagama Malang, bersama KTM telah melakukan kegiatan penanaman mangrove dan eco education susur sungai Bajolmati.

Rangkaian acara kolaborasi yang diadakan WALHI Jawa Timur di Probolinggo dan Malang Selatan bersama Anggota WALHI yakni KIH 12 Malang dan SLH Saunggalih Univ Yudharta Pasurua, bersama komubnitas, membawa pengalaman yang tak akan terlupakan dan pelajaran baru yang menarik. Organisasi dan lembaga lingkungan boleh saja menguasai teori dan data pencemaran lingkungan. Akan tetapi, bagi ASPEKPRO yang mempertahankan sawahnya, dan KTM yang menanam pohon untuk mencegah kerusakan lingkungan adalah pejuang lingkungan sesungguhnya.

 

Penulis & Narahubung:

Lucky Wahyu Wardhana (Staff Khusus Jaringan Publik)

lukiwalhijatim@walhi.or.id

 

 

 

 

 

 


0 Comments

Leave a Reply

Avatar placeholder

Your email address will not be published. Required fields are marked *