Hari bumi kali ini bertepatan dengan perayaan hari raya umat Islam yaitu Idul Fitri. Momen Idul Fitri menjadi momentum untuk mudik bagi banyak orang. Sejak seminggu sebelum hari raya, banyak keluarga yang berbondong – bondong untuk pulang ke kampung halaman. Jalanan penuh dengan mobil pribadi yang juga semakin meningkatkan polusi dan kemacetan.

Selain itu, momen sakral yang tidak bisa lepas dari Idul Fitri adalah makan bersama. Biasanya, keluarga akan memasak dengan jumlah besar dengan menu yang melimpah, tidak bisa dipungkiri sampah baik organik maupun plastik juga akan meningkat baik dari proses memasak ataupun sisa makanan nantinya.

Kebiasaan lain saat lebaran adalah membeli baju baru juga menjadi kebiasaan banyak orang untuk merayakan hari raya. Baju semakin bertambah di lemari, terkadang sudah tidak muat dan berujung di tempat sampah. Baju-baju itu juga memenuhi bumi, tanpa bisa dikendalikan. Ia menjadi sampah yang tergeletak di tanah dan sangat lama terurainya.

Mudik, makan besar, dan membeli baju baru bukan kegiatan yang salah. Karena Idul Fitri ini telah ditunggu oleh banyak orang. Momen untuk pulang kampung dan saling berkumpul dengan keluarga besar. Namun bertepatan dengan hari bumi ini, kita juga dapat merayakan Idul Fitri dengan lebih peduli kepada bumi.

Bumi yang saat ini kita tinggal telah mengalami krisis dan kerusakan. Banyak fenomena yang terjadi yang menandakan krisis iklim dan kerusakan ekologis telah terjadi. fenomena tersebut dapat dilihat dengan jelas di sekeliling kita.

Salah satunya yaitu musim yang tidak bisa lagi di prediksi, hal ini berpengaruh terhadap para petani yang kesulitan menentukan musim tanam mereka dan menganggu proses pertanian bagi petani yang sudah menanam. Lalu, suhu udara yang semakin meningkat.

Suhu yang semakin panas telah kita rasakan setidaknya dalam satu tahun ini. Hal ini tentu mengganggu aktivitas kita, membuat penggunaan AC dan kipas angin semakin tinggi. Lihat setiap rumah, masjid sampai pos keamanan kampung, semua butuh pendingin ruangan.

Fenomena yang terjadi tersebut tidak bisa kita lepas dari perubahan tata ruang yang dilakukan oleh manusia khususnya yang berkuasa. Banyak hutan yang digunduli lalu di ubah menjadi kawasan – kawasan yang diperuntukkan bagi proyek strategis di sektor energi, pariwisata, dan tambang.

Padahal hutan memiliki fungsi penting sebagai paru – paru bumi, juga menjadi wilayah penyangga. Sehingga tidak bisa dipungkiri bencana alam seperti banjir dan tanah longsor juga disebabkan karena hilangnya hutan – hutan kita.

Di Jawa Timur sendiri, fenomena tersebut sangat bisa dirasakan. Banyak wilayah yang fungsinya berubah untuk proyek – proyek yang tidak ramah kepada bumi.

Sepanjang pesisir utara dan pesisir selatan telah dirubah menjadi blok tambang mineral dan gas. Terdapat pula PLTU besar yaitu di Pacitan, Tj Awar-Awar, Tuban dan Paiton yang ikut menyumbang kerusakan lingkungan. Wilayah tengah juga sedang diubah secara besar – besaran untuk pembangkit listrik panas bumi, jalur lintas, bandara dan juga pariwisata buatan.

Perubahan Tata Ruang dan Wilayah ini diperuntukkan untuk memenuhi kebutuhan eksploitasi dari mereka yang rakus. Praktik ekonomi eksploitatif ini telah merusak ekosistem terutama siklus alam untuk memenuhi kebutuhannya.

Ekonomi eksploitatif ini adalah mereka yang mengambil bahan dari alam terus menerus, dengan tujuan meningkatkan keuntungan tanpa memperhatikan kawasan yang dieksploitasi. Sehingga masyarakat sekitar yang menuai dampaknya, bukan yang mengeksploitasi karena ia tinggal jauh dari tempat yang ia keruk.

Problem lain yang perlu kita lihat adalah sampah, suatu permasalahan yang tidak sepele. Akibat dari semakin besarnya industri, limbah yang dihasilkan juga semakin besar. Bukan hanya dari industri, sektor rumah tangga juga ikut menyumbang.

Saat ini banyak keluarga yang menggunakan akses cepat saji untuk memenuhi kebutuhannya. Misalkan makan di restoran cepat saji dan belanja di onlineshop. Tentunya bungkus dari produk – produk tersebut menimbulkan sampah yang jumlah terbesarnya merupakan sampah plastik. Sehingga Gaya hidup minim sampah menjadi tantangan bagi masyarakat yang tergantung pada industri cepat saji.

Dari paparan di atas, kita seharusnya segera mengambil langkah bijak. Pada momentum Hari bumi yang bertepatan dengan hari raya ini, kita dapat merayakan dengan lebih bijak. Mungkin, kita bisa mudik dengan menggunakan angkutan umum yang tersedia, sehingga kita tidak ikut memperparah polusi udara dengan kendaraan pribadi.

Lalu, kita juga bisa memasak sesuai porsi di dalam keluarga kita. Tentunya harus menggunakan perhitungan seksama agar tidak berlebihan. Tidak membeli baju baru dan menggunakan baju yang masih layak digunakan juga menjadi langkah mudah yang bisa kita lakukan. Sehingga kita juga dapat membantu pengurangan laju fast fashion.

Beragam cara untuk menyelamatkan bumi dari kerusakan sebenarnya dapat kita mulai dengan hal – hal di sekitar kita, di mana kita bisa menjadi konsumen yang bijak. Mulai mengurangi hal-hal yang tidak perlu. Pada intinya hidup yang tahu apa itu kebutuhan dan bagaimana pemenuhannya.

Berubah untuk jadi lebih baik atau kerennya menjadi environmentalis itu panjang dan sulit. Tidak usah muluk-muluk, mulailah dari sederhana serta sesuai kemampuan. Dan pastinya punya tekad bukan sekedar konten atau akting, biar terlihat keren.

Sebagai refleksi selama Ramadhan kemarin kita sudah diajarkan menahan diri, tidak berlebih-lebihan, untuk senantiasa tahu dan bertindak sesuai kebutuhan. Esensi puasa adalah mengurangi konsumsi dan kembali pada kebutuhan. Idul fitri adalah puncak dari mawas diri. Apakah satu bulan puasa berhasil mengubah kita menjadi lebih mengerti soal kebutuhan.

Sama halnya untuk Bumi, apakah kita sudah mengerti jika sudah bukan zamannya kita berlomba mengeruk seisi Bumi. Ini adalah zaman kita harus paham bahwa Bumi harus dipulihkan. Masa depan bumi ada pada kita, karena tidak ada planet bumi lainnya selain yang kita tinggali hari ini.


0 Comments

Leave a Reply

Avatar placeholder

Your email address will not be published. Required fields are marked *