Sampah menggunung di Kenjeran

Pada peringatan Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) 21 Februari 2023 ini, problem sampah merupakan satu dari aneka ancaman yang kini tengah mengancam keberlangsungan planet kita. Sejarah peradaban ditandai dengan kebangkitan teknologi yang turut mendorong transformasi ekonomi turut mengubah apa yang kita konsumsi dan kita sisakan pascanya.

Di Jawa Timur merujuk dari data timbulan sampah KLHK 2022 (SIPN) Jawa Timur dalam setahun telah memproduksi sekitar 1,487,812.44 ton dengan rata-rata harian 4,076 ton. Pada situs KLHK ini yang tercatat hanya pada 10 Kabupaten/kota di antaranya  Kabupaten Pacitan, Lumajang, Mojokerto, Jombang, Bojonegoro, Tuban, Lamongan, Pamekasan, Kota Malang dan Madiun. Sementara yang lainnya tidak tercatat. Kota Surabaya saja produksi sampahnya setiap hari dapat mencapai 1.500 sampai 1.900 ton per hari. Tentu, rata-rata timbulan sampah baik tahunan maupun harian kemungkinan bisa lebih dari 4 juta ton per tahun dan lebih dari 11 ribu ton per harinya.

Data timbulan sampah Jawa Timur diakses dari SIPSN KLHK

Hari-hari ini kita mendengar banyak Tempat Pembuangan Akhir (TPA) hingga Tempat Pembuangan Sementara (TPS) yang kelebihan kapasitas, sampai pada beberapa wilayah dikabarkan menganggu kehidupan warga sekitar, sebagai contoh seperti yang dialami oleh warga Tlekung dan Junrejo Kota Batu, lalu ada warga Kecamatan Tutur, Kabupaten Pasuruan, terakhir warga di sekitar TPA Segawe Tulungagung juga mengalami nasib serupa. Mereka sempat protes mengenai keberadaan TPA yang menyisakan bau tak sedap dan ancaman-ancaman lainnya.

Lalu, Jika kita berjalan ke kampung-kampung, setiap titik pasti ada sampah yang dibuang sembarangan. Di jalan, di lahan, di sungai dan di tempat yang tidak seharusnya. Seperti jika kita melewati jalan alternatif Malang menuju Singosari, di sebuah jembatan di atas sungai di wilayah Tunjungtirto, kita akan menemukan tumpukan sampah yang benar-benar menumpuk dan menganggu ekosistem sungai.

Problem sampah sekarang bukan hanya monopoli kota besar atau madya, tapi persoalan yang luas dan mulai memasuki ruang kampung. Artinya kita sedang berada dalam keadaan yang boleh dibilang darurat sampah. Karena lambat laun di setiap titik timbulan sampah, baik organik maupun anorganik hingga B3 memenuhi ruang kehidupan. Bukan tidak mungkin pada masa yang akan datang kita akan hidup beralaskan sampah, sebab tanah-tanah telah tertutupi.

Sampah Menggurita, Produsen Harus Bertanggung Jawab

Pada hari sabtu dan minggu, tim WALHI Jawa Timur salah satunya bersama anggota SLH Saunggalih Universitas Yudharta Pasuruan, berjalan-jalan menelusuri pesisir Kenjeran, Surabaya. Kami menemukan salah satu hal menarik, yakni Surabaya sudah kehilangan pantai berpasirnya, karena permukaan air laut telah naik dan mulai merangsek ke daratan. Wisata pantai pun, jika biasanya bermain pasir, kini hanya duduk dipinggiran tanggul, sembari ‘jajan’ atau makan. Itu artinya apa kawan? Ancaman perubahan iklim semakin nyata.

Selain ancaman perubahan iklim, pada beberapa titik laut seakan-akan menjadi tempat sampah bersama, kami menemui banyak sampah yang berceceran dan menumpuk. Bahkan pemandangan itu kami juga temui pada wilayah Pantai Ria Kenjeran yang masih menjadi destinasi wisata sebagian kecil warga untuk menghabiskan waktu bersama keluarga tercintanya. Sampah menumpuk seakan-akan adalah sebuah instalasi yang wajib hukumnya.

Kami pada satu titik di wilayah Kenjeran juga menemukan tumpukan sampah. Di sana kami mencoba untuk membongkar-bongkar sampah tersebut. Kami menemukan aneka bungkusan barang kebutuhan sehari-hari, mulai dari mie instan populer seperti produk andalan “Indomie” dari Indofood dan “Mie Sedap” dari Wingsfood, sampai merek deterjen andalan kita bermerk “Rinso” dari Unilever, “Kapal api” dari Santos, “Nutrisari” dari Nutrifood serta produk-produk lainnya.

Produk yang mendominasi sampah di Kenjeran

Bungkusan tersebut masih tampak bagus dan seperti baru, setelah kami cek produksinya ternyata itu adalah produk tahun 2014-2016. Dalam kurun waktu 6-7 tahun ternyata bungkus produk yang terbuat dari plastik tersebut tidak mengalami perubahan signifikan. Temuan ini menguatkan jika dalam waktu lebih 20 tahun bungkus tersebut tidak akan terurai bahkan bisa juga 50 tahun.

Temuan ini menguatkan argumen, mengapa produsen juga harus bertanggung jawab, karena keberadaan sampah adalah hasil dari aktivitas produksi mereka. Jika mereka tidak memproduksi bungkusan seperti itu, mungkin juga tidak akan ada sampah. Sementara tidak adil juga, kita selalu menyalahkan individu. Sebab ada banyak faktor yang melatarbelakangi seseorang terpaksa mengkonsumsinya. Atau sudah ada yang berupaya mengurangi bahkan berhenti, tetapi tetap juga tidak bisa lepas. Karena ini bukan soal perilaku, tetapi bagaimana konsumsi masif sejatinya didorong oleh keberadaan produksi produk.

Sudah Saatnya Mendorong Perubahan

Banyak tawaran, banyak langkah yang dapat kita upayakan bersama. Mungkin sebagian teman kita beranggapan untuk menyelesaikan problem sampah adalah perubahan perilaku dengan menerapkan gaya hidup zero waste. Ada juga yang menganggap persoalan sampah dapat dicapai dengan membuat inovasi seperti keberadaan bank sampah hingga energi seperti waste to energy.

Tetapi menurut kami, tidak cukup dengan hal-hal tersebut. Bahkan kami tidak sepakat dengan waste to energy. Meskipun mereka menjelaskan bahwa itu ramah lingkungan dengan metode gasifikasi dll. Tetapi mengharapkan sampah yang sejak awal tidak terpilah lalu menjadi sumber energi adalah kesia-sian belaka. Sebab residu masih banyak, menumpuk dan menumpuk. Belum lagi dampak dari aktivitas tersebut, seperti emisi yang dihasilkan. Jika toh nanti berjalan pun, sampah tidak akan  berkurang, akan bertambah terus dan bertambah karena logika dari waste to energy adalah supply dan demand.

Ada banyak hal yang bisa kita lakukan, tanpa mengerdilkan yang diupayakan orang lain, langkah sekecil apapun adalah wujud kepedulian dan usaha untuk menyelamatkan bumi. Tetapi yang patut digarisbawahi adalah problem sampah bukan soal kesalahan individu seperti dalam ungkapan logika etika antrophocene. Tetapi problem sampah adalah multifaktor dan interseksional. Dari produksi konsumsi, sampai persoalan kemiskinan.

Tentu, perlu juga kita bersuara dan mendorong pemerintah untuk membuat regulasi melampaui pengurangan single use plastic, tetapi juga bagaimana mereka mengintervensi produsen untuk bertanggung jawab atas sampah yang dihasilkan dan mulai memikirkan model ekonomi yang sirkular atau berkelanjutan. Terakhir, menjadi sangat penting untuk mendorong kolaborasi dengan komunitas untuk mendorong tata kelola sampah yang tepat sasaran yang peka terhadap kondisi sosial ekonomi.

Narahubung:

Lucky Wahyu Wardhana (085749787616)

Pengkampanye Isu Urban WALHI Jatim

 

 

 


0 Comments

Leave a Reply

Avatar placeholder

Your email address will not be published. Required fields are marked *